By : o_zy
Ini merupakan kisah cinta pada saat Indonesia masih berada dibawah penjajahan Belanda. Dan merupakan kisah tragis yang sangat mengharukan. Dimana dua sejoli dari kaum bangsawan saling jatuh cinta.
Datu’ Musseng merupakan tokoh yang sangat terkenal di wilayah Sulawesi Selatan dan namanya di abadikan menjadi nama salah satu jalan yang ada di wilayah Makassar. Begitu pula dengan sang pujaan hatinya, Maipa. Merupakan ratu yang kecantikannya tak tertandingi di wilayahnya pada saat itu dan berasal dari kaum bangsawan Makassar.
Alkisah Datu’ Musseng yang merupakan raja salah satu kerajaan yang ada pada saat itu tengah mencari-cari pendamping hidup yang setia. Tapi tak satu pun yang dapat memikat hatinya. Hingga pada suatu saat ketika ia hendak melanjutkan perjalanannya dari pengembaraan, ia singgah di sebuah mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur. Seusainya melaksanakan shalat, ia terdecak kagum melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita lewat di hadapannya dan di kawal oleh pengawalnya. Sang wanita cantik itu tak lain adalah Maipa yang merupakan ratu salah satu kerajaan yang ada di wilayah Makassar. Kecantikannya tak tertandingi. Paras yang sangat manis berkulit putih dan rambut panjangnya memikat hati sang Datu’. Berawal dari pandangan, keduanya saling menatap dan entah telah ditakdirkan atau memang ketidak sengajaan mereka memiliki rasa yang sama. Sang Datu’ Musseng pun mengatakan kepada tangan kanannya untuk mencari informasi tentang sang ratu yang dapat memikat hatinya. Setelah mencari informasi, sang tangan kananya pun mempertemukan Datu’ Musseng dan Maipa di sebuah tempat rahasia. Setelah bertemu, keduanya saling bercengkrama dan berkenalan. Tak lama setelah itu Datu’Musseng pun mengungkapkan perasaannya kepada sang pujaan hati. Bak gayung nersambut Maipa pun telah mengetahui isi hati sang Datu’ Musseng. Merekapun melewati hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Setiap harinya mereka selalu melakukan pertemuan rahasia di bawah pohon. Merasa sudah lama merasa cocok, akhirnya Datu’ Musseng dan Maipa memutuskan untuk mengikat mereka berdua dalam tali perkawinan.
Namun, kedatangan penjajah ketanah makassat membuat rencana mereka tersebut menjadi berantakan. Salah seorang petinggi dari Belanda datang untuk menguasai wilayah Makassar. Setelah membangun pertahanan di wilayah selatan pulau Sulawesi tersebut, sang colonel mulai melancarkan serangan ke kerajaan-kerajaan yang ada. Sehingga perang pun tak dapat dielakkan. Sang colonel akirnya menyerang ke kerajaan ratu Maipa. Namun sang colonel malah kepincut dengan kecantikan sang Maipa. Sang colonel lalu memutuskan tidak menyerang kerajaan tersebut tapi dengan syarar Maipa harus menjadi istrinya. Jika tidak seluruh kerajaan pun akan di musnahkan. Para penasihat Maipa pun merayu sang ratu agar mau menjadi istri sang colonel agar kerajaan mereka tetap utuh. Ratu Maipa yang sudah cinta mati dengan Datu’ Musseng pun dibuat pusing. Dia pun secara diam-diam menemui Datu’ Musseng. Kerajaan Datu’ pada saat itu sedang bersiap-siap melakukan peperangan dengan Belanda. Setelah bertemu, Datu’ Musseng dan Maipa lalu berbicara empat mata. Maipa lalu berbaring dipaha Datu’ Musseng lalu menceritakan semuanya. Melihat Maipa yang sangat mencintai Datu’ Musseng dan begitu pula sebaliknya, Datu’ Musseng lalu menyuruh sang ratu agar datang keesokan harinya setelah shalat dzuhur di rumah adat Datu’ Musseng.
Keesokan harinya Maipa datang ke rumah Datu’ Musseng. Lalu sang Datu’ berpesan jikalau memang tidak bisa hidup tanpa dirinya, sebaiknya Maipa bunuh diri. Maipa pun saking sangat mencintai sang Datu’ lalu menurutinya. Sang Datu’ pung lalu mengambil pedang miliknya dan ingin memenggal kepala Maipa. Sebelum ia melakukaknnya, ia berpesan kepada Maipa untuk menunggunya di alam sana setelah Ashar. Lalu di ayunkannya pedangnya dan menebas leher sang ratu.
Lalu sang datu’ menangis lalu bersiap-siap turun kemedan perang. Ia pun lalu berpesan kepada tangan kananyya jikalau dirinya mati di peperangan nanti agar di makamkan seliang dengan sang ratu. Lalu sang tangan kananya pun ,emyebarkannya kepada pengawal-pengawalnya yang lain. Dan saking setianya kepda Datu’ Musseng, pengawalnya pun juga meminta agar dimakamkan di depan kuburan Datu’ Musseng dan Maipa. Setelah shalat ashar, pasukan pun bersiap-siap menggempur Belanda yang ada di kerajaan ratu Maipa.
Terjadi peperangan sengit. Datu’ Musseng yang dikenal gagah perkasa sangat piawai memainkan pedangnya dan merobohkan satu persatu lawannya. Setelah beberapa lama, peperangan masih terjadi. Pihak Belanda terpukul mundur. Tapi datang bantuan mereka dari markas. Pasukan Datu’ Musseng pun perlahan mundur. Tapi sang pemimpin dan tangan kananya masih berada di garis depan untuk meladeni lawan. Karena jumlah yang tak berimbang, Datu’ pun akirnya mundur. Tapi serangan yang tiada henti membuat pasukan Datu’ Musseng sedikit demi sedikit berkurang. Sang datu’ sendiri lalu menyelinap dan berhadapan dengan sang colonel. Dengan pedangnya, Datu’ Musseng berhasil melukai sang colonel. Tapi dengan kecanggihan peralatan yang dimiliki, sang colonel menembaki Datu’ Musseng hingga jatuh tersungkur. Dengan sisa nafasnya Datu’ Musseng berusaha mengambil pedangnya. Lalu ia bangun dan menancapkannya tepat di jantung sang colonel. Kolonel pun tewas. Namun Datu’ Musseng juga dalam kondisi skarat. Di tengah pertempuran, lalu sang tangan kanan datang untuk membawa tubuh sang raja kembali ke kerajaan. Namun ditengah perjalanan, ia di tembaki dari belakang oleh para anak buah colonel yang marah akibat kematian kolonelnya. Beruntung dengan sisa kekuatan yang ada berhasil menghindar dari anak buah colonel yang telah mati. Belanda pun mundur karena merasa sangat takut karena kolonelnya berhasil dibunuh. Sang Datu’ yang di bopong oleh tangan kananya pun tak sanggup bertahan dan wafat di perjalanan menuju ke kerajaan. Dengan sisa tenaga yang dimilikanya pula, sang tangan kanan berhasil membawa jenazah Datu’ Musseng ke kerajaan. Sesampainya di kerajaan, sang tangan kanan juga menghembuskan nafas terakhirnya.
Lalu jasad Datu’ Musseng dan Ratu Maipa di kuburkan dalam satu liang. Dan di depan kuburannya terdapat tangan kanan datu’ yang sangat setia kepada sang rajanya.
Inilah sekilas cerita tentang Datu’ Musseng dan Ratu Maipa. Nama keduanya lalu diabadikan menjadi nama jalan di Kota Makassar sampai saat ini. Dan makamnya terdapat di wilyah ssekitar pasar sentral Makassar.
Semoga menambah wawasan teman-teman yang membacanya….. ^^